Purwakarta Patut Jadi Panutan Tentang Keberagaman Dan Persatuan Umat Beragama

🙏 RUMAHINJECT 🙏

Mengingat banyaknya aksi intoleran akhir akhir ini memang membuat negara Indonesia menjadi kelihatan terbelakang dimata masyarakatnya dan dimata negara lain, tapi hal itu ternyata tidaklah membawa permusuhan di tempat tempat tertentu yang ternyata masyarakatnya mampu untuk memahami arti perbedaan yang baik, ini merupakan contoh pendidikan yang tinggi kelasnya, dan semoga dapat ditiru oleh bagian bagian lain yang kurang paham arti keberagaman, berikut ini adalah contoh tempat yang mana keributan tentang ormas intoleran tidak ada dalam wilayah itu, yaitu di wilayah purwakarta khususnya di sekitar Gereja Bethel Tabernakel yang mana umat muslim dan kristiani saling membantu dan rukun, simak bagaimana kesehariannya.



Gereja Bethel Tabernakel, bukanlah bangunan yang megah. Luasnya tidak lebih dari 200 meter dan berada di permukiman padat penduduk.

Dari luar, sekilas bangunan tersebut tidak tampak seperti gereja. Terlihat serupa dengan rumah-rumah yang ada di sampingnya. Yang membedakan, di bagian atas bangunan tersebut terdapat tulisan Tabernakel dan papan pengumuman jadwal kegiatan rutin pada hari Minggu, Rabu, dan Jumat yang dihiasi dengan tanda salib.

Bagian dalam gereja pun sangat sederhana. Tak banyak interior yang menghiasi. Hanya satu buah pohon Natal, mimbar, dan deretan beberapa kursi tempat beribadah.

Gereja ini berada di tengah permukiman muslim di Jalan Hidayat Martalogawa No 20 Purwakarta.

Dari 100 jemaat aktif di gereja tersebut, hanya beberapa orang yang tinggal di daerah itu. Sisanya berada di Cimaung dan Gandasari yang lokasinya cukup jauh. Namun, meski umat Nasrani sangat minoritas di lokasi tersebut, keberagaman sangat terasa.

“Warganya baik semua, seperti saudara,” ujar Pendeta Gereja Bethel Tabernakel, Matius Suhardi kepada Kompas.com, Kamis (22/12/2016).

Bahkan gereja yang didirikan tahun 1961 itu pun dibangun atas bantuan warga Muslim yang ada di sekitar lokasi.
[ads-post]
“Gereja ini dibangun dari bantuan jemaat. Namun dalam proses pembangunan, tetangga muslim sering membantu. Bahkan Bu Rohati, tetangga muslim saya di belakang, selalu memberikan kami makanan,” ungkap Matius yang tinggal di sana sejak 1965.

Keberagaman itu terjalin hingga kini. Saat Lebaran, para tetangga berdatangan membawakan kue Lebaran, opor ayam, ketupat, dan makanan khas Lebaran.

Sementara saat Natal, setiap tahun Matius selalu membagikan kue.

Ketika ibadah berlangsung pun, banyak tetangga muslim yang menawarkan bantuan. Di antaranya menjadikan pelataran rumah mereka parkir, mengingat sempitnya lahan parkir yang dimiliki gereja.

“Saya berterima kasih kepada warga Purwakarta, pada pemerintahan setempat, sudah mengizinkan kami membangun gereja di sini. Kami sangat damai di sini,” ucapnya.[kmp]

0 comments